Asuhan Kebidanan I

NAMA                                     : CHRISTAMAYA SHINTA & VONY ALVIONITA

NIM                                         : 12. 15. 1065/12. 15. 1115

Iklan

HELLOWWWWWW

I’m backkkkkkk

*fuuuhhhh*

wahhhh blog ini ternyata sudah sangat berdebu, tpi untung yah masih belum dipenuhi lumut dan sarang laba-laba. *jungkir balik*
Setelah cukup lama menghilang dari dunia per-blogging-an, dan sekarang akhirnya
AKU BALIK LAGI lohhhhhhhhhhhh *teriak-teriak didalam air kobokan*

betewe,

Gak tau nih, setahunan lebih gak ngisi ini blog, maklum saat itu lagi jadi pengacara hehe (pengangguran banyak acara) :p

Baca lebih lanjut

Dua Dunia Berbeda

Biasa lah gak ada kerjaan, jadi otak-atik google, browse sana-sini, dan aku nemuin gambar-gambar ini. Karena aku rasa kalian perlu melihatnya juga, maka dari itu aku sengaja ngeposting ini supaya kita sama-sama mengerti dan satu hal yang paling penting yang diceritakan dari gambar ini adalah mengajarkan kita untuk BERSYUKUR. Ternyata hidup bersyukur itu bukan hanya mensyukuri apa yang kita miliki, namun juga mensyukuri hal-hal yang tidak kita miliki.

Kepada Tuhan Yesus Kristus, kepada mama papa, adik kakak, teman-teman, dan semua yang sudah ikut campur dalam hidupku, aku berterimakasih sebesar-besarnya. Terlebih kepada Tuhan Yesus. 🙂

Kita memang harus sering-sering dicubit agar terus ingat. Padahal di negeri kita pemandangan seperti ini masih banyak terjadi. Mata kita seperti tertutup tabir yang baru bisa terbuka setelah hati kita terbuka.

Tuhan, buka hati kami.

Baca lebih lanjut

Luapan Euforia Kelulusan

Beberapa waktu ini lagi heboh-hebohnya kabar tentang kelulusan pelajar SMA. kami pun ditugaskan oleh Pak rudy untuk meliput proses kelulusan ini. tepat pada hari senin kemaren tanggal 16 maret 2011, pengumuman kelulusan dilaksanakan diseluruh SMA.
Perasaan gugup dan keringat dingin pasti terlintas pada masing-masing murid, khususnya di SMADA, tidak terkecuali kami yang menyaksikannya secara langsung.hihi. nggak bisa dipungkiri, SMADA lulus dengan presentase 100%.
Dengan sigap kami memotret berbagai ekspresi yang ditampakka pada masing-masing orang, ternyata tidak hanya senang atau pun bahagia, tapi ada juga yang menangis.
dibawah ini foto-foto dimulai dari persiapan foto bersama, pengarahan, doa bersama, siswa berprestasi, pembagian amplop, sampai ekspresi-ekspresi kebahagiaan :

FOTO BERSAMA

PENGARAHAN

Baca lebih lanjut

Ruang Dekompresi

Sebelum tau apa guna dari ruang dekompresi, kita harus tau apa itu ruang dekompresi.
nah, ruang dekompresi adalah sebuah bejana tekanan dalam bentuk seperti kapal yang digunakan dalam permukaan menyelam yang disediakan untuk memungkinkan para penyelam untuk meyelesaikan dekompresi berhenti di akhir menyelam di permukaan daripada dibawah air.
hal tersebut dapat menghilangkan banyak resiko docompressions panjang di bawah air dalam kondisi dingin atau berbahaya.

Jadi guna ruang dekompresi yang pertama sebuah ruang recompression adalah untuk mengobati penyelam menderita gangguan tertentu saat sedang menyelam, seperti penyakit dekompresi.
yang kedua, sebuah terapi oksigen hiberbarik ruang yang digunakan dalam rumah sakit olahraga konteks atau untuk mengobati pasien yang ondisinya mungkin manfaat dari perawatan oksigen hiperbarik, termasuk penyelam.

nah, itu tuh ruag dekompresi itu.
keren banget kan?

Berguru Pada Semut

wowww…kita nggak pernah menduga kan kalau ternyata semut itu kuat, hebat dan pekerja.
Semut mampu menangkat benda seberat 10 kali lebih berat dari dirinya. Kalau kita pikir secara logika saja, semut adalah binatang terlemah dan tak berdaya bahkan tidak tenar.haha
tapi coba kita lihat faktanya.
Semut bergerak 24 jam sehari. Kecepatan berjalan semut, 0,5 km/jam dengan volume yang 1/130, maka kecepatan semut seukuran manusia adalah 80km/jam.
Dalam berduel semut mampu mengimbangi binatang atau serangga musuh 5 kali lebih besar dari dirinya (kecuali lebah, laba-laba dan lipan).
Terlebih sarangnya, jika kita luruskan panjangnya bis mencapai 7 km. bayangin aja, binatang yang kita pikir adalah binatang yang lemah ini ternyata binatang terkuat dimuka bumi.
ini yang harus kita jadikan bahan pelajaran, sifat semut yag setia, kuat dan pekerja.

memang terkadang kita nggak pernah sadar, betapa alam mengajarkan begitu banyak kearifan dalam hitup. contohnya aja sifat pada semut ini.
kapasitas personal yang sangat minim yang membuat mereka bekerja sama yang menjadikan jalan keluar dari setiap masalah.
intinya, kebersamaan adalah kunci keberhasilan. 🙂
Berguru yukk sama semut. 😀

 

 

Geisha dan Rahasianya.

Geisha…hmm, kayanya serem ya kalau dibayangin. 😀

Oh, Geisha itu wanita penghibur di Jepang dengan wajah putih tembok, bibir merah cabe, bersanggul besar, dan mengenakan kimono. Mungkin penggembaran kita seperti itu. Tapi sebenarnya, Geisha bukan sekedar wanita penghibur, bukan sekedar prostitute, tapi lebih dari itu.

Prostitute ?

Untuk menjadi geisha,  seorang gadis harus menjalani latihan bertahun- tahun di okiya (rumah geisha), dengan biaya yang sangat mahal. Seorang geisha harus pandai memainkan alat musik tradisional Jepang, yaitu Shamisen, piawai menari, menguasai sastra, dan memiliki pengetahuan luas sehingga bisa diajak berbicara apa saja. Geisha juga harus berperilaku lemah lembut, sopan, dan memikat hati.

Memikat hati siapa? Para pria pelanggannya, of course

Keberadaan geisha dalam struktur kehidupan Jepang sudah berlangsung selama 400 tahun. Pada suatu masa dalam sejarah negeri Sakura ini, geisha memiliki posisi yang demikian penting dan tinggi, meskipun kini mereka hampir punah terlibas jaman…

Geisha, mereka begitu populer, tetapi kehidupan mereka sesungguhnya, terselimut rapat dalam rahasia …

Jauh dari kehidupan sehari-hari, geisha adalah golongan elit. Bagi kebanyakan orang, tidak terlalu mudah untuk melihat geisha. Mereka menjadi simbol yang dipuja dan merupakan salah satu bagian terpenting dalam budaya Jepang. Geisha sendiri berarti ‘seniman’.

Geisha pertama kali muncul pada tahun 1600-an. Pada masa itu, pusat pemerintahan Jepang berada di kota Edo, yang sekarang dikenal dengan nama Tokyo, dengan Shogun sebagai penguasa penuh. Pada awalnya, geisha adalah laki-laki. Mereka menari dan menyanyi untuk menghibur para tamu. Namun kemudian, geisha laki-laki digantikan oleh geisha perempuan, dan hingga sekarang semua geisha adalah perempuan.

 

Geisha dilatih untuk menyenangkan tamu. Mereka juga harus menutup mulut rapat-rapat, tidak boleh membocorkan apa pun yang pernah dibicarakan tamu.

Pada tahun 1779 geisha diakui sebagai sebuah profesi. Pemerintah kemudian membentuk Kenban untuk mengawasi mereka, mencegah geisha menjadi pelacur. Geisha bertugas menghibur tamu dalam pesta, tetapi tidak melacurkan diri secara bebas. Untuk itu, Kenban mengeluarkan peraturan yang mengharuskan geisha diantar pergi dan pulang dari pesta, agar mereka tidak ‘berbelok di jalan’.

Bagaimana perjalanan seorang perempuan hingga menjadi geisha?

Kyoto adalah pusat keberadaan geisha. Di Kyoto terdapat wilayah yang disebut Gion, yang merupakan tempat gadis-gadis muda mengawali karier sebagai geisha. Gadis-gadis kecil berumur 7 atau 8 tahun mulai dididik disini, dan selama bertahun-tahun mereka dilatih oleh guru geisha, belajar bahasa, memainkan alat musik  Shamisen, menari, dan sebagainya. Murid dari Gion disebut Maiko. Biaya pendidikan geisha, serta biaya untuk membeli kimono dan perlengkapan lainnya, mencapai 500.000 $US.

Para geisha tinggal di okiya (rumah geisha) yang dipimpin oleh ‘Ibu Geisha’. Hubungan di antara sesama geisha sangat erat, seringkali melebihi kedekatan hubungan dengan keluarga sendiri. Geisha-geisha yang masih muda memiliki ‘kakak geisha’ yang membimbing mereka untuk menjadi geisha sempurna.

 


Benda paling berharga bagi seorang geisha adalah kimono, karena kimono yang bagus sangat mahal, dan mereka harus selalu mengenakan busana itu. Warna kimono dipilih sesuai dengan musim : hitam untuk awal tahun dan hari-hari penting, pink untuk musim semi, jingga untuk musim gugur, dan hijau untuk musim dingin. Sanggul geisha ditata seminggu sekali oleh penata rambut profesional yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun. Agar tatanan rambut tidak rusak, geisha tidur dengan leher disangga balok kayu. Jika keluar rumah, geisha mengenakan bakiak tinggi, agar kimononya tidak kotor.

Geisha berbeda dengan pelacur, dan hal ini tampak pada cara mereka berpakaian. Pelacur mengikat obinya di depan, sedangkan obi geisha diikat di belakang. Karena diikat di depan, pelacur dengan mudah akan mengenakan obinya kembali setelah dibuka. Sedangkan geisha, karena obinya diikat di belakang, mereka tidak bisa setiap saat membuka dan mengikatnya kembali, karena untuk mengikat obi di belakang membutuhkan bantuan juru riasnya.

Dalam tradisi masyarakat Jepang, sangat jarang seorang suami bercengkerama dengan isterinya. Tugas isteri adalah mengatur rumah tangga dan membesarkan anak, sementara suami membayar geisha untuk bersenang-senang. Anehnya, banyak perempuan Jepang justru bangga jika suaminya menjadi pelanggan dan memiliki hubungan dengan seorang geisha. Paling tidak, pengakuan seperti itu keluar dari bibir isteri Profesor Moriya, seorang pelanggan geisha.

Seorang geisha tidak boleh menikah, tetapi ia bisa memiliki anak dari Danna, pria yang menjadi kekasih dan menanggung biaya hidupnya. Biaya hidup geisha sangat mahal, dan ia dituntut untuk selalu tampil mewah. Di sebuah toko di Gion, harga sebuh tali untuk mengikat obi (ikat pinggang kimono) mencapai 220 $US, sementara harga tas pelengkap kimono mencapai 500 $US. Namun demikian, penghasilan seorang geisha juga cukup besar. Untuk tampil selama 1 jam, tamu harus membayar 500 $US. Mameka, seorang geisha senior, memiliki penghasilan 8000 $US per bulan. Ia memiliki Danna yang kaya raya, yang membelikannya sebuah apartemen mewah seharga 850.000 $US. Mameka menjadi contoh ideal bagi para maiko, geisha muda di Gion. kini jumlah geisha di Tokyo tinggal sekitar 100 orang.

Dalam setiap budaya bangsa-bangsa di seluruh dunia, selalu ada perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai penghibur pria. Sungguh menyedihkan, tetapi itulah realita yang ada. Posisi laki-laki dan perempuan yang timpang, dimana perempuan menjadi pihak yang tersubordinasi, membuat banyak perempuan berada pada posisi yang tidak berdaya, dan diperdayakan.

Semoga ke depan perempuan di seluruh dunia mampu bangkit dan mensejajarkan dirinya dengan para pria. Bukankah sesungguhnya pria dan wanita adalah sesama manusia yang harus saling menghormati dan menghargai keberadaan masing-masing?

(Sumber : VCD “The Secret Life of Geisha”, BBC, tutinonka.wordpress.com)